Pelajaran dari Kasus Travel Umroh: Sudut Pandang Seorang Akuntan

Posted on October 22, 2017 · Posted in Accounting

Bayangkan diri anda seorang pemilik biro travel umroh yang sedang naik daun. Anda bukan akuntan dan sama sekali tidak mengerti akuntansi, namun insting bisnis anda tinggi sehingga mampu mendeteksi peluang yang ada. Lewat paket yang murah dan bantuan pemasaran dari review jama’ah yang kebanyakan memuaskan, masyarakat berbondong-bondong ingin menggunakan jasa yang anda berikan. Dan bagian terbaiknya adalah mereka semua membayar satu tahun di depan. Hmm… Menggiurkan bukan?

“Tapi kan harga paketnya di bawah harga wajar! Jadi ini pasti penipuan!”, jika seseorang sudah tahu tentang kasus ini, mungkin dia akan langsung protes demikian. Fair enough! Tapi coba main lah ke beberapa e-commerce yang ada di Indonesia. Tanya mereka, apakah mereka sudah membukukan keuntungan? Tahukah anda bahwa ada sebuah market place yang beberapa tahun tidak membukukan pendapatan sama sekali? Yup, nol, zip, zero! Bukankah pegawainya puluhan atau bahkan ratusan dan investasi teknologinya miliaran? Apakah ini juga otomatis penipuan? Bukankah harga jasa yang diberikan penyedia ojek-ojek online juga pada awalnya membuat orang bertanya-tanya tentang kewajarannya? Apakah menjual sesuatu yang di bawah nilai keekonomisannya sudah pasti kejahatan? Jika iya, maka seharusnya dibuat pengumuman saja: Dilarang bakar duit di Indonesia!

Bisa jadi strateginya begini: Jual paket umroh murah untuk penetrasi pasar. Lalu coba tawarkan paket premium, dan perlahan-lahan migrasikan orang kesana. Atau, dengan volume paket yang luar biasa, syukur-syukur cost per paketnya bisa diturunkan. Beli grosiran harusnya lebih murah dari beli eceran bukan?! Atau mungkin saja dengan volume sebesar ini bisa ditawarkan ke investor yang mau me-monetize-kannya. Mungkin demikian rencana awalnya.

Nah, bayangkan anda ada di posisi demikian. You’re sitting on a huge pile of money! Pas nanya ke direktur keuangan, anda diberi tahu kalo saldo per hari ini ada sekian ratus miliar. Dan anda pun tersenyum lebar. Sweet, isn’t it?! Plesiran lah anda…

Not so fast, my friend! Apparently, the CFO forgot to inform you a small, yet important, detail. Uang itu memang ada di rekening anda, tapi anda juga punya hutang kepada mereka! Rupanya, si CFO, yang bukan seorang akuntan, tidak paham terhadap penyusunan laporan keuangan. Laporan yang diberikan hanya laba rugi dan saldo bank. Rupanya, dia tidak mengerti bagaimana menyusun neraca. Dia lupa, selain melaporkan asset, dia harus melaporkan liability-nya juga!! Harusnya ada akun yang namanya pendapatan diterima dimuka! Dan uang yang diterima sementara jama’ahnya belum diberangkatkan, belum jelas akan diberangkatkan kapan, mayoritas pekerjaan pun belum diselesaikan, dan mayoritas biaya belum dikeluarkan, BELUM BOLEH DIAKUI SEBAGAI PENDAPATAN MELAINKAN HUTANG! Duarrrr…!!! Dan andapun terhenyak…

“Mustahil terjadi!”, pikir anda! Really?

Mari saya perkenalkan anda dengan seorang pengusaha restoran yang memiliki cabang dimana-mana. Beberapa tahun yang lalu, saat ekonomi kita sedang booming dan usaha kuliner lagi happening, bisnisnya berjaya! Orang-orang makan di restoran-restorannya. Dan bagian terbaiknya, mereka selalu bayar dimuka, sementara pembayaran ke supplier ditunda. Jadi seperti bisnis umroh tadi, he had a ton of money! Mantap!

“Saldo bank kita berapa?”, tanyanya kepada staf akuntansinya. Ketika ditunjukkan saldonya, dia pun tersenyum lebar. Tiap bulan, diambillah untuknya beberapa miliar. Jumlah yang diambilnya adalah sebesar laba yang staf akuntansinya laporkan. Aman bukan?!

Bukan!! Rupanya, si staf tersebut melakukan dua kesalahan. Pertama, dia tidak membuatkan neraca sehingga pada saat owner-nya melihat saldo bank perusahaannya, dia tidak tau berapa besar hutangnya. Kedua, laporan laba rugi yang dia sajikan mengandung kesalahan yang fatal. Karena tidak mengerti, HPP alias COGS yang dia laporkan ternyata hanya berdasarkan asumsi, bukan aktual. Belakangan, barulah diketahui bahwa laba yang disajikan kebesaran. Artinya, penarikan uang yang dilakukan selama ini ternyata lebih besar daripada kemampuan perusahaan. Hal tersebut baru disadarinya ketika saldo bank perusahaan perlahan-lahan menipis dan supplier satu per satu mulai menuntut pembayaran. Dia pun baru panik dan mencari-cari pinjaman…

—–

Tulisan ini hanya berupa terkaan dan sama sekali tidak menjustifikasi apa yang pemilik travel umroh lakukan. Apa yang sebenarnya terjadi, hanya dia dan polisi yang tahu, dan tentu saja Tuhan Yang Maha Tahu. Di samping itu, bisnis apapun yang terkait dengan penggunaan dana publik sudah seharusnya dikelola dengan baik dan menjaga prinsip kehati-hatian.

Tulisan ini hanya mencoba memotret apa yang kadang terjadi di perusahaan-perusahaan kecil menengah yang sedang tumbuh, dan coba menghubung-hubungkannya dengan biro travel umroh tersebut. Yang kami saksikan, kebanyakan dari perusahaan itu dijalankan oleh entrepreneur tangguh dengan ide-ide brilian. Sayangnya, sebagian dari mereka tidak didampingi oleh akuntan yang mumpuni. Bagaikan kendaraan, mereka tau persis bagaimana membuat mesin usahanya berlari,tapi mereka tidak punya panel informasi di depan kemudi yang memberi mereka indikator jumlah bensin saat ini. Selama mesin itu bisa masih bisa dikebut, maka dia pikir semuanya baik-baik saja. Sampai, mesin itu tersendat-sendat lalu terhenti. Barulah dia sadar bahwa bensinnya sudah mau habis dari tadi…

—–

Jika anda memerlukan bantuan untuk menyusun laporan keuangan yang akurat, atau membutuhkan review laporan keuangan dari pihak yang kompeten dan independen, silahkan hubungi Kantor Akuntan Publik Ladiman, Novita & Rekan di 62-21-8499 2477 atau pelajari portofolio pekerjaan kami. Kami siap mendampingi bisnis anda agar terus melaju.